oleh

Renungan Kristen: Berani Mengambil Risiko Bersama Tuhan, Jangan Biarkan Ketakutan Menguasai Hidup

Renungan Kristen: Berani Mengambil Risiko Bersama Tuhan, Jangan Biarkan Ketakutan Menguasai Hidup

Ayat Renungan: Matius 14:29

“Kata Yesus: ‘Datanglah!’ Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.”

Ada saat dalam kehidupan ketika kita harus memilih: tetap berada di tempat yang terasa aman atau berani melangkah menuju sesuatu yang belum kita ketahui.

Pilihan semacam ini tidak pernah mudah. Kita takut gagal, takut kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki, takut mengambil keputusan yang keliru, bahkan takut mengecewakan orang lain.

Karena itulah banyak orang memilih bertahan.

Bukan karena keadaan yang sekarang adalah yang terbaik, melainkan karena sesuatu yang sudah dikenal terasa lebih aman daripada masa depan yang belum diketahui.

Namun, perjalanan iman tidak selalu berlangsung di tempat yang aman. Ada waktunya Tuhan mengajak kita keluar dari “perahu” dan belajar berjalan bersama-Nya.

Kisah Petrus yang berjalan di atas air menjadi gambaran menarik tentang keberanian mengambil risiko dalam iman. Petrus tidak mengetahui apa yang akan terjadi ketika kakinya keluar dari perahu.

Ia hanya mengetahui satu hal: Yesus memanggilnya untuk datang.

Mengambil Risiko Bukan Berarti Bertindak Ceroboh

Ada perbedaan besar antara keberanian dan kecerobohan.

Iman Kristen tidak mengajarkan kita mengambil keputusan sembarangan kemudian berharap Tuhan membereskan semua akibatnya.

Amsal 19:2 mengingatkan bahwa seseorang yang tergesa-gesa dapat salah langkah. Artinya, pertimbangan dan kebijaksanaan tetap diperlukan.

Mengambil risiko bersama Tuhan berarti berani melakukan sesuatu yang benar meskipun hasil akhirnya belum terlihat.

Mungkin kita harus meninggalkan kebiasaan lama.

Mungkin ada kesempatan baru yang membuat kita takut.

Mungkin kita harus mengatakan kebenaran ketika diam terasa jauh lebih mudah.

Mungkin kita perlu meminta maaf terlebih dahulu meskipun tidak mengetahui bagaimana orang lain akan merespons.

Atau mungkin Tuhan sedang menggerakkan hati kita untuk memulai pelayanan, pekerjaan, pendidikan, usaha, atau langkah kehidupan yang baru.

Tidak semua risiko harus diambil. Tetapi jangan sampai ketakutan menjadi satu-satunya alasan kita menolak melangkah.

Petrus Berani Keluar dari Perahu

Bayangkan situasi para murid pada malam itu.

Mereka berada di tengah danau. Angin bertiup kencang dan perahu mereka dihantam gelombang. Kemudian mereka melihat Yesus berjalan di atas air.

Petrus berkata kepada-Nya, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

Yesus menjawab singkat, “Datanglah.”

Di sinilah keputusan harus dibuat.

Petrus dapat tetap duduk di dalam perahu.

Ia bisa menunggu sampai keadaan lebih tenang. Ia juga dapat meminta murid lain mencoba terlebih dahulu.

Namun, Petrus memilih keluar.

Tindakan tersebut mengandung risiko. Secara manusiawi, air bukan tempat seseorang dapat berdiri dan berjalan.

Tetapi Petrus mempunyai alasan untuk melangkah: Yesus yang memanggilnya.

Ini menjadi prinsip penting dalam kehidupan orang percaya.

Keberanian bukan sekadar berkata, “Aku yakin semuanya pasti berhasil.”

Keberanian iman berkata, “Aku tidak mengetahui seluruh hasilnya, tetapi aku mau menaati Tuhan.”

Kita Sering Menginginkan Kepastian Sebelum Melangkah

Manusia menyukai kepastian.

Sebelum mengambil keputusan, kita ingin mengetahui hasilnya. Sebelum memulai sesuatu, kita ingin mendapatkan jaminan bahwa semuanya akan berjalan lancar.

Kita ingin mengetahui apakah pekerjaan baru akan berhasil.

Kita ingin memastikan usaha yang dibangun tidak mengalami kerugian.

Kita ingin tahu apakah hubungan yang sedang diperjuangkan mempunyai masa depan.

Kita ingin memastikan keputusan yang dibuat tidak membawa kesulitan.

Sayangnya, kehidupan tidak menyediakan semua jawaban di awal perjalanan.

Abraham juga mengalaminya.

Dalam Kejadian 12:1, Tuhan meminta Abram meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah ayahnya menuju negeri yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya.

Perhatikan bahwa Tuhan tidak memberikan seluruh peta perjalanan kepada Abraham terlebih dahulu.

Ia diminta pergi.

Kemudian Tuhan menunjukkan jalannya.

Terkadang kita ingin Tuhan menjelaskan langkah pertama sampai langkah keseratus. Padahal, Tuhan mungkin hanya menunjukkan langkah berikutnya.

Di situlah iman diperlukan.

Ketakutan Membuat Kita Memilih Tempat yang Sama

Zona nyaman memang memberikan rasa aman, tetapi tidak selalu membuat kita bertumbuh.

Kita dapat bertahan bertahun-tahun dalam keadaan yang sama hanya karena takut mencoba sesuatu yang berbeda.

Ketakutan sering datang dengan berbagai pertanyaan:

“Bagaimana kalau aku gagal?”

“Bagaimana kalau orang lain menertawakanku?”

“Bagaimana kalau aku kehilangan semuanya?”

“Bagaimana kalau ternyata keputusanku salah?”

Pertanyaan tersebut manusiawi.

Namun, ada satu pertanyaan lain yang jarang kita pikirkan:

Bagaimana jika ketakutan justru membuat kita tidak pernah melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan?

Kegagalan memang mempunyai risiko. Namun, tidak pernah mencoba juga mempunyai konsekuensi.

Ada kesempatan yang mungkin berlalu.

Ada kemampuan yang tidak pernah berkembang.

Ada pelayanan yang tidak pernah dimulai.

Ada mimpi yang terus menjadi rencana tanpa pernah diwujudkan.

Karena itu, jangan hanya menghitung risiko ketika melangkah. Pertimbangkan juga risiko ketika memilih diam di tempat.

Iman Tidak Menghilangkan Semua Ketakutan

Sering kali kita berpikir orang yang berani adalah orang yang tidak takut.

Padahal keberanian justru terlihat ketika seseorang tetap melakukan yang benar meskipun rasa takut masih ada.

Yosua pernah menghadapi situasi seperti ini.

Setelah Musa meninggal, ia menerima tanggung jawab besar untuk memimpin bangsa Israel. Tuhan kemudian berkata kepadanya dalam Yosua 1:9 agar ia kuat dan teguh serta tidak takut ataupun tawar hati.

Mengapa Tuhan perlu mengatakan hal tersebut?

Karena tugas yang dihadapi Yosua memang besar.

Keberanian bukan berarti kita tidak merasakan tekanan.

Iman juga bukan berarti kita tidak pernah cemas menghadapi masa depan.

Iman berarti kita tidak membiarkan rasa takut menjadi penguasa keputusan kita.

Kita dapat berkata, “Aku takut, tetapi aku tetap percaya Tuhan menyertaiku.”

Jangan Mengambil Risiko Hanya karena Ingin Membuktikan Diri

Ada hal lain yang perlu diperhatikan.

Tidak semua keputusan berisiko merupakan tindakan iman.

Seseorang dapat melakukan sesuatu yang nekat karena ego, ambisi, emosi, atau keinginan membuktikan dirinya kepada orang lain.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan besar, bawalah keputusan tersebut dalam doa.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah langkah ini bertentangan dengan firman Tuhan?

Apakah keputusan ini dibuat karena iman atau emosi sesaat?

Apakah saya sudah mempertimbangkan konsekuensinya?

Apakah ada nasihat dari orang yang dewasa secara rohani dan dapat dipercaya?

Apakah keputusan ini membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?

Amsal 15:22 mengajarkan bahwa rancangan dapat gagal ketika tidak ada pertimbangan, tetapi dapat terlaksana ketika terdapat banyak penasihat.

Iman dan hikmat seharusnya berjalan bersama.

Bagaimana Jika Kita Gagal?

Inilah salah satu ketakutan terbesar ketika mengambil risiko.

Bagaimana jika ternyata kita gagal?

Kegagalan memang dapat menyakitkan. Kita mungkin kehilangan waktu, uang, kesempatan, atau kepercayaan diri.

Namun, kegagalan tidak selalu berarti seluruh perjalanan kita sia-sia.

Petrus sendiri akhirnya mulai tenggelam.

Ketika ia melihat kuatnya angin, ia menjadi takut. Imannya goyah dan tubuhnya mulai masuk ke dalam air.

Petrus kemudian berseru, “Tuhan, tolonglah aku!”

Apa yang dilakukan Yesus?

Matius 14:31 mencatat bahwa Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus.

Ada pelajaran yang sangat indah di sini.

Ketika Petrus gagal mempertahankan langkahnya, Yesus tidak meninggalkannya tenggelam.

Kegagalan Petrus bukan akhir cerita.

Begitu pula kehidupan kita.

Ada keputusan yang mungkin tidak menghasilkan sesuatu seperti yang kita bayangkan. Ada rencana yang harus diperbaiki. Ada perjalanan yang memaksa kita memulai kembali.

Namun, Tuhan dapat memakai proses tersebut untuk membentuk kerendahan hati, ketekunan, kebijaksanaan, dan kedewasaan kita.

Fokus kepada Tuhan, Bukan Besarnya Gelombang

Masalah Petrus dimulai ketika perhatiannya berpindah.

Awalnya ia melihat Yesus.

Kemudian ia melihat angin.

Ketika fokusnya berubah, ketakutan mulai menguasainya.

Kita juga mudah mengalami hal yang sama.

Ketika hendak mengambil langkah baru, kita mulai menghitung semua kemungkinan buruk.

Kita melihat keterbatasan kemampuan.

Kita membandingkan diri dengan orang lain.

Kita membaca komentar orang.

Kita memikirkan kegagalan masa lalu.

Tanpa disadari, gelombang terlihat semakin besar sementara Tuhan terlihat semakin kecil.

Padahal gelombangnya mungkin tidak berubah. Yang berubah adalah fokus kita.

Karena itu, sebelum mengambil langkah penting, perkuat hubungan dengan Tuhan melalui doa dan firman-Nya.

Keberanian yang sehat tidak lahir dari rasa percaya diri berlebihan. Keberanian tersebut tumbuh dari kesadaran bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Ambillah Langkah yang Bisa Dilakukan Hari Ini

Tidak semua keberanian harus diwujudkan melalui keputusan besar.

Kadang-kadang langkah iman dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Mengirim lamaran pekerjaan.

Mendaftar pendidikan.

Memulai usaha kecil.

Menghubungi seseorang yang sudah lama tidak kita ajak bicara.

Mengakui kesalahan.

Mencoba pelayanan baru.

Belajar keterampilan yang selama ini kita hindari.

Mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang membawa kita menjauh dari Tuhan.

Atau berani memulai kembali setelah kegagalan.

Jangan menunggu sampai seluruh rasa takut hilang.

Mungkin rasa takut itu tetap ada ketika kita mengambil langkah pertama.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa langkah tersebut dilakukan dengan doa, hikmat, pertimbangan yang matang, dan hati yang bersedia menaati Tuhan.

Renungan Hari Ini

Mungkin saat ini kita sedang berdiri di antara dua pilihan.

Di satu sisi ada perahu yang terasa aman.

Di sisi lain ada panggilan untuk melangkah.

Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana perjalanan di depan akan berlangsung.

Ingatlah Petrus.

Ia memang pernah tenggelam, tetapi ia juga menjadi satu-satunya murid dalam kisah tersebut yang berani keluar dari perahu dan berjalan menuju Yesus.

Kehidupan bersama Tuhan tidak selalu berarti memilih jalan tanpa risiko.

Terkadang iman justru membawa kita pada keberanian untuk meninggalkan kenyamanan demi menaati panggilan-Nya.

Karena itu, jangan mengambil risiko hanya untuk membuktikan bahwa kita hebat. Jangan pula bertindak gegabah dengan menggunakan iman sebagai alasan.

Berdoalah.

Pertimbangkan dengan bijaksana.

Dengarkan firman Tuhan.

Mintalah nasihat.

Kemudian, ketika kita mengetahui langkah yang benar tetapi masih takut melakukannya, jangan biarkan ketakutan menghentikan ketaatan.

Kita mungkin belum mengetahui apa yang ada di depan.

Tetapi kita dapat mengetahui siapa yang berjalan bersama kita.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menyertai setiap perjalanan hidupku. Aku mengakui bahwa terkadang rasa takut membuatku enggan melangkah dan memilih bertahan di tempat yang terasa aman.

Berikanlah kepadaku hikmat untuk membedakan antara keberanian dan kecerobohan. Tolong aku agar tidak mengambil keputusan hanya karena emosi, ambisi, atau keinginan membuktikan diri.

Ketika Engkau menunjukkan jalan yang harus kutempuh, berikan aku keberanian untuk melangkah. Saat aku takut gagal, ingatkan bahwa hidupku tetap berada dalam tangan-Mu.

Jika aku jatuh, ajari aku bangkit. Jika rencanaku harus berubah, berikan kerendahan hati untuk menerimanya. Jika aku harus menunggu, berikan kesabaran.

Aku menyerahkan masa depanku kepada-Mu. Biarlah setiap keputusan yang kuambil membawa hidupku semakin dekat kepada kehendak-Mu.

Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

FAQ Renungan Kristen tentang Mengambil Risiko

Q: Apakah orang Kristen boleh mengambil risiko?
A: Boleh. Namun, mengambil risiko sebaiknya dilakukan dengan doa, hikmat, pertimbangan matang, dan tidak bertentangan dengan prinsip firman Tuhan.

Q: Apa ayat Alkitab tentang berani mengambil risiko?
A: Salah satu kisah yang relevan terdapat dalam Matius 14:28-31 ketika Petrus berani keluar dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus.

Q: Apa perbedaan iman dan tindakan nekat?
A: Iman berakar pada kepercayaan dan ketaatan kepada Tuhan serta berjalan bersama hikmat. Tindakan nekat cenderung mengabaikan pertimbangan, konsekuensi, dan nasihat yang sehat.

Q: Bagaimana mengatasi rasa takut mengambil keputusan?
A: Bawalah keputusan dalam doa, pertimbangkan konsekuensinya, periksa kesesuaiannya dengan firman Tuhan, dan mintalah nasihat dari orang yang bijaksana serta dapat dipercaya.

Q: Apakah kegagalan berarti Tuhan meninggalkan kita?
A: Tidak. Alkitab memperlihatkan banyak tokoh yang mengalami kegagalan dan kesulitan. Kegagalan dapat menjadi proses untuk belajar, bertumbuh, memperbaiki keputusan, dan semakin bergantung kepada Tuhan.

Q: Mengapa Tuhan terkadang membawa kita keluar dari zona nyaman?
A: Pengalaman di luar zona nyaman dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam iman, karakter, keberanian, dan ketergantungan kepada Tuhan.

Q: Apa pesan utama renungan Kristen tentang mengambil risiko?
A: Jangan bertindak ceroboh, tetapi jangan pula membiarkan ketakutan menghalangi langkah yang benar. Berdoalah, gunakan hikmat, dan ketika Tuhan mengarahkan, milikilah keberanian untuk melangkah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *